Senin, 10 Maret 2014

jejak ekologi dalam nilai dan etika lingkungan




JEJAK EKOLOGI Dalam NILAI Dan ETIKA LINGKUNGAN 

1.       PENDAHULUAN 
Krisis lingkungan hidup yang kita alami dewasa ini tidak hanya akibat dari meledaknya populasi dan perkembangan teknologi eksploitasi, tetapi secara mendasar bersumber pada kesalahan fundamental-filosofis dalam pemahaman atau cara pandang manusia mengenai dirinya, alam, dan tempat manusia di dalam keseluruhanekosistem.
Kesalahan cara pandang ini bersumber dari etika antroposentrisme, yang memandang manusia sebagai pusat dari alam semesta, bahwa hanya manusia yang mempunyai nilai, sementara alam dan segala isinya sekadar alat bagi pemuasan kepentingan dan kebutuhan hidup manusia.
          Bertolak dari kondisi tersebut, menekankan perlunya suatu etika baru yang tidak hanya berlaku untuk interaksi antarmanusia, tetapi juga interaksi manusia dengan semua kehidupan di bumi. Suatu etika yang yang memandang alam sebagai bernilai pada dirinya sendiri dan pantas diperlakukan secara bermoral. Dengan etika baru ini, manusia dituntut untuk menjaga dan melindungi alam beserta segala isinya. Alam dan seluruh isinya tidak sekadar bernilai instrumental-ekonomis untuk dieksploitasi bagi kepentingan manusia.
II.       TUJUAN
1.          Untuk mengetahui jejak ekologi manusia dalam etika lingkungan ?
2.          Bagaimana jejak ekologi manusia dalam etika lingkungan ?
3.           Utuk mengetahui etika liingkungan dalam perilaku manusia ?
III.    JEJAK EKOLOGI MANUSIA DALAM  ETIKA LINGKUNGAN

3.1 Konsepsi Jejak Ekologi
Jejak ekologi pada asasnya ialah kemampuan sumber tanah dan air menyediakan sumber yang diperlukan oleh manusia (makanan, minuman, tempat tinggal dan lain-lain) serta kemampuan untuk bumi untuk menyerap semua bahan buangan manusia sesudah mereka menggunakannya. Dengan kata lain sumber yang digunakan oleh manusia dibandingkan dengan kemampuan bumi untuk menghasilkan semuala bahan yang sudah digunakan. Konsep ini pada awalnya dibangunkan oleh Profesor Willian Rees dari Universiti British Colombia pada tahun 1992.
Jejak Ekologis adalah suatu metoda untuk mengukur dampak manusia terhadap alam dan  mengkomunikasikannya secara kuantitatif dalam bentuk yang mudah dipahami. Dampak atau beban kita terhadap alam dinyatakan sebagai luas daerah (tanah dan perairan) yang dibutuhkan untuk menunjang hidup manusia secara berkelanjutan.

3.2  Etika Lingkungan  
      Etika adalah penilaian terhadap tingkah laku atau perbuatan. Etika bersumber pada kesadaran dan moral seseorang. Etika biasanya tidak tertulis. Namun ada etika yang tertulis, misalnya etika profesi, yang dikenal sebagai kode etik.
Etika lingkungan, pada dasarnya adalah perbuatan apa yang dinilai baik untuk lingkungan dan apa yang tidak tidak baik bagi lingkungan. Etika lingkutan bersumber pada pandangan seseorang tetang lingkungan.
Prinsip-prinsip etika lingkungan mengatur sikap dan tingkah laku manusia dengan lingkungannya. Prinsip-prinsip tersebut adalah prinsip tidak merugikan, tidak campur tangan, kesetiaan, dan keadilan.
1.   Prinsip tidak merugikan (the rule of Nonmaleficence), yakni tidak merugikan lingkungan, tidak menghancurkan populasi spesies ataupun komunitas biotic. 
2.  Prinsip tidak campur tangan (the rule of noninterference), yakni tidak memberi hambatan kepada kebebasan setiap organisme, yaitu kebebasan mencari makan, tempat tinggal, dan berkembang biak.
3.  Prinsip kesetiaan (The rule of fidelity) yakni tidak menjebak, menipu, atau memasang perangkap terhadap makhluk hidup untuk semata-mata kepentingan manusia. 
4.   Prinsip keadilan (the Rule of Restitutive Justice), yakni mengembalikan apa yang telah kita rusak dengan membuat kompensasi.
Beberapa contoh tindakan - tindakan yang sesuai dengan etika  lingkungan adalah sebagai berikut :
1.      Membuang sampah (missal bungkus permen) pada tempatnya. Jika belum ditemukan tempat sampah, bungkus permen itu hendaknya dimasukkan ke saku terlebih dahulu sebelum di buang pada tempatnya. 
2.      Menggunakan air secukupnya. Jika tidak sedang digunakan, matikan keran. Dari keran yang menetes selama semalam, dapat ditampung air sebanyak 5- 10 liter, cukup untuk minum bagi dua orang dalam sehari. Ingat, sesungguhnya air itu tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk makhluk hidup lainnya.Hemat energi.
3.     Mematikan lampu listrik jika tidak digunakan. Jika kamu memasak air, kecilkan api kompor tersebut segera setelah air mendidih. Menurut hukum fisika, jika air mendidih, suhunya tidak dapat ditingkatkan lagi. Menggunakan api kompor besar ketika air sudah mendidih hanya memboroskan bahan bakar.
4.     Tidak membunuh hewan yang ada di lingkungan, menangkap, atau memeliharanya. 
5.      Tidak memetik daun, bunga, ranting, atau menebang pohon tanpa tujuan yang jelas dan bermanfaat.
6.      Gemar menanam bunga, merawat tanaman, melakukan penghijauan.
7.      Mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.
8.     Mengembalikan hewan atau tumbuhan ke habitat aslinya
Etika lingkungan dalam Perilaku manusia
          Etika lingkungan hidup, berhubungan dengan perilaku manusia terhadap lingkungan hidupnya, tetapi bukan berarti bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta (antroposentris). Lingkungan hidup adalah lingkungan di sekitar manusia, tempat dimana organisme dan anorganisme berkembang dan berinteraksi, jadi lingkungan hidup adalah planet bumi ini. Ini berarti manusia, organisme dan anorganisme adalah bagian integral dari dari planet bumi ini. Hal ini perlu ditegaskan sebab seringkali manusia bersikap seolah-olah mereka bukan merupakan bagian dari lingkungan hidup.
      Secara entimologis manusia dan bumi sama sama mempunyai akar kata yang sama dalam bahasa semit, yaitu disebut ‘dm, asal kata adam (manusia) dan adamah, artinya tanah. Manusia adalah lingkungan hidup, sebab dia mempunyai ciri-ciri dimana seluruh komponen yang yang ada berasal dari alam ini, yaitu ciri-ciri fisik dan biologis.
          Istilah lingkungan hidup pertama kali dimunculkan oleh Ernst Haeckel,  seorang murid Darwin pada tahun 1866, yang menunjuk kepada keseluruhan organisme atau pola hubungan antar organisme dan lingkungannya. Ekologi berasal dari kata oikos dan logos, yang secara harfiah berarti rumah dan lingkungan. Ekologi sebagai ilmu berarti pengetahuan tentang lingkungan hidup atau planet bumi ini sebagai keseluruhan. Jadi lingkungan harus selalu dipahami dalam arti oikos, yaitu planet bumi ini. Sebagai oikos bumi mempunyai dua fungsi yang sangat penting, yaitu sebagai tempat kediaman (oikoumene) dan sebagai sumber kehidupan (oikonomia/ekonomi).
     Etika adalah hal yang sering dilupakan dalam pembahasan perusakan lingkungan. Pada umumnya pihak-pihak yang terlibat dalam konflik ini cenderung langsung menggunakan fenomena-fenomena yang muncul di permukaan dan kemudian mencari penyebabnya kepada aktivitas yang ada di sekitar fenomena tersebut (misalnya: Logging, Pertambangan, Industri dll) sebagai tersangka dan untuk mendukung kecurigaan tersebut digunakanlah bukti-bukti yang dikatakan ilmiah, walaupun sering terjadi data yang dikemukakan tidak relevan.
          Pada sisi lain pihak yang dituduh kemudian juga menyodorkan informasi atau data yang bersifat teknis yang menyatakan mereka tidak bersalah, akibatnya konflik yang terjadi semakin panas dan meluas, padahal kalau mereka yang berkonflik memiliki etika yang benar tentang lingkungan hidup maka konflik yang menuju kearah yang meruncing akan dapat dicegah.
           Apakah yang menyebabkan etika lingkungan cenderung dilupakan? Pada umumnya disebabkan oleh beberapa hal yaitu keserakahan yang bersifat ekonomi (materialisme), ketidak tahuan bahwa lingkungan perlu untuk kehidupannya dan kehidupan orang lain serta keselarasan terhadap semua kehidupan dan materi yang ada disekitarnya, atau karena telah terjadi transaksi jiwa antara perusak lingkungan dengan Mephistopheles, sehingga yang di kedepankan adalah meraih puncak-puncak nafsu yang ada di bumi dan sekaligus mendapatkan bintang-bintang indah di langit atau surga. Bukankah ini sesuatu yang ironis ?
           Lingkungan hidup bukanlah obyek untuk dieksploitasi secara tidak bertanggung jawab, tetapi harus ada suatu kesadaran bahwa antara manusia dan lingkungan terdapat adanya relasi yang kuat dan saling mengikat. Rusaknya lingkungan hidup akan berakibat pada terganggunya kelangsungan hidup manusia. Karena itu setiap kali kita mengeksploitasi sumberdaya mineral dari alam yang diciptakan oleh Tuhan, kita harus memperhitungkan dengan seksama manfaat apa yang akan dihasilkannya bagi kemaslahatan manusia. Dengan demikian pemanfaatan ini tetap dalam tujuan transformasi menjadi manusia yang merdeka, cerdas, dan setara satu dan lainnya.
IV.         PEMBAHASAN
        Dari Hasil analisis diatas Jejak Ekologis adalah suatu metoda untuk mengukur dampak manusia terhadap alam dan  mengkomunikasikannya secara kuantitatif dalam bentuk yang mudah dipahami. Dampak atau beban kita terhadap alam dinyatakan sebagai luas daerah (tanah dan perairan) yang dibutuhkan untuk menunjang hidup manusia secara berkelanjutan.
        Dalam hal ini bahwa hanya manusia mempunyai tanggung jawab moral terhadap lingkungan karena manusia tahu apa yang baik ia lakukan dan yang tidak ia lakukan dalm etika lingkungan. Tapi walaupun manusia termasuk alam dan sepenuhnya dapat dianggap sebagai bagian alam, namun hanya manusialah yang sanggup melampaui status alaminya dengan memikul tanggung jawab lingkungan hidup disekitarnya.   
           Pikiran bahwa setiap manusia berhak atas lingkungan berkualitas yang memungkinkan dia untuk hidup dengan baik. Lingkungan yang berkualitas sesuatu yang sangat diharapkan, tetapi juga sesuatu yang harus direalisasikan karena menjadi hak setiap manusia . Tetapi hak atas lingkungan yang berkualitas bisa saja mengalahkan hak seseorang untuk memakai miliknya dengan bebas. Jika perusahaan memiliki tanah sendiri, ia tidak boleh membuang limbah beracun di situ, karena dengan itu ia mencemari lingkungan hidup yang tidak pernah menjadi milik pribadi begitu saja.
               Jika kita bisa menyetujui hak atas lingkungan berkualitas ini pada taraf teori, maka pada taraf praktek masih tinggal banyak kesulitan. Tidak menjadi jelas sejauh mana hak atas milik pribadi atau hak atas usaha ekonomis harus dibatasi.
           Dalam konteks hak dan lingkungan hidup kerap kali diperdedakan lagi pertanyaan apakah kita harus mengakui adanya hak untuk generasi-generasi yang akan datang dan malah binatang atau barangkali malah pohon dan mahluk hidup lainnya. Hak dalam arti sebenarnya selalu mengandaikan subyek yang rasional dan bebas, jadi manusia yang hidup. Hanya saja, dengan menyangkal adanya hak-hak ini, kita tidak menyangkal adanya hak-hak ini, kita tidak menyangkal adanya kewajiban untuk mewariskan lingkungan hidup berkualitas kepada generasi-generasi yang akan datang dan kewajiban untuk memelihara keanekaan hayati. Walaupun sering kewajiban dengan pihak satu sepadan dengan hak dari pihak lain, di sini tidak demikian. Sumber bagi kewajiban kita di sini adalah tanggung jawab kita terhadap generasi-generasi sesudah kita dan keanekaan hayati bukan hak-hak mereka.
               Awal atau Pendasaran bagi tanggung jawab untuk melestarikan lingkungan hidup, dapat dicari juga dalam tuntutan etis untuk mewujudkan keadilan. Kalau begitu, keadilan di sini harus dipahami sebagai keadilan distributive, artinya keadilan yang mewajibkan kita untuk membagi dengan adil. Sebagaimana sudah kita lihat, lingkungan hidup pun menyangkut soal kelangkaan dank arena itu harus dibagi dengan adil. Perlu dianggap tidak adil, bila kita tidak memanfaatkan alam demikian rupa, sehingga orang lain misalnya generasi-generasi yang akan datang tidak lagi bisa memakai alam untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan baik
V.           KESIMPULAN
           Jejak ekologis menghitung luasnya subur tanah, air tawar tawar, lautan dan banyakknya energi yang tidak terbarukan dan yang dibutuhkan manusia untuk memenuhi kebutuhan atas pangan, sedang papan serta mobilitas orang. hal ini berarti bahwa cara kehidupan masa kini telah melebihi kemampuan bumi dan mengancam keberlanjutan kehidupan pada planet ini.
           Dalam hal ini bahwa hanya manusia mempunyai tanggung jawab moral terhadap lingkungan karena manusia tahu apa yang baik ia lakukan dan yang tidak ia lakukan dalm etika lingkungan.                
           Setiap mahluk manusia, Binatang atau tumbuhan, merindukan kehidupan. Akan tetapi tidak ada mahluk yang mampu memuaskan nafsu atas kesejahteraan sosial, kenikmatan dan keuntungan yang tidak dapat terpenuhi. kebebasan manusia untuk memilih dan tugas untuk  merawat dunia ini dengan penuh rasa tanggung jawab dan secara berkesinambungan  adalah dasar etika. Memikirkan etika lingkungan secara mendalam , misalnya pada contoh mobilitas, makin jelas bahwa arah yang telah kita tempuh merupakan jalan buntu, kita harus mengubah pikiran.
           Tujuannya untuk mempertahankan eksistensi planet bumi maka manusia memerlukan kekuatan/nilai lain yaitu etika atau moral manusia. Etika dan moral bukan ciptaan manusia, sebab ia melekat pada dirinya, menjadi hakikatnya. Sama seperti bumi bukan ciptaan manusia. Ia dikaruniai bumi untuk dikelola dan pengelolaan itu berjalan dengan baik dan bertanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA
Dasar-Dasar  arsitektur Ekologi .2007.Yogyakarta : Kanisius
http://yundahamasah.blogspot.com/2013/03/jejak-ekologiku.html



JEJAK EKOLOGI

Jejak ekologis adalah sistem yang mengukur seberapa banyak ruang (di darat dan air) yang diperlukan manusia untuk menghasilkan sumber daya yang mereka butuhkan dan menyerap limbah yang mereka hasilkan. Kalkulasi jejak ekologis dilakukan dengan menghitung berapa hektar ruang hidup (darat dan air) di bumi yang dibutuhkan oleh seorang manusia untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya dalam setahun.
Jejak Ekologis adalah suatu metoda untuk mengukur dampak manusia terhadap alam dan  mengkomunikasikannya secara kuantitatif dalam bentuk yang mudah dipahami. Dampak atau beban kita terhadap alam dinyatakan sebagai luas daerah (tanah dan perairan) yang dibutuhkan untuk menunjang hidup manusia secara berkelanjutan.
Jejak Ekologi merupakan analisis nilai kebutuhan manusia di dalam ekosistem .Analisis ini membandingkan kebutuhan manusia dengan kemampuan biosfer alam dalam mereproduksi sumber daya . Nilai tersebut merepresentasikan jumlah lahan produktif  biologis yang diperlukan untuk mereproduksi sumber daya yang dikonsumsi manusia dan menyerap limbah melalui teknologi yang berlaku. Dengan penilaian ini, maka dapat diperkirakan berapa banyak sumber daya kota yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan manusia. Sebagai gambaran, jejak ekologis bumi mencapai nilai 1,4 pada tahun 2006. Dengan kata lain, manusia menggunakan 1,4 kali lebih cepat jasa ekologi yang dapat perbaharui bumi.
Cara Menghitung Seberapa Besar Jejak Ekologiku
Untuk mengukur jejak ekologi kita berdasar standar yang telah ditentukan, menggunakan kuis. Beberapa faktor yang menjadi komponen penghitungan adalah bagaimana jejak rantai makanan (food), tempat berteduh (shelter), perjalanan untuk berkegiatan (mobility), barang (goods), jasa (service). Dari 5 jejak ini terasa mobilitas, makanan, dan perumahan mendapat porsi penyelidikan yang besar. Sebaliknya barang dan jasa hanya sekelumit mendapat penilaian. Dari hasil reka-reka jawaban, ternyata memang sangat sulit untuk menghasilkan jawaban yang tak lebih dari 1 yang berarti cukup dengan kondisi alamiah bumi.
A.  Transportasi
1.  Dengan apa anda bepergian hari ini?
a) Berjalan…..0
b) Bersepeda…..5
c) Dengan Angkutan Umum….   10
d) Menumpang.....15
e) Kendaraan Pribadi ….  3 x 30
(Kalikan setiap skor dengan berapa sering metode  tsb dipakai dalam satu hari dankemudian                                                                                                                                                                                                                                                                             Sub-Total: 90
B.  Penggunaan Air
1.  Seberapa banyak air yang digunakan?
a)  Tidak mandi….0
b)  Mandi, 1-2 menit. ….5
c)  Mandi, 3-6 menit.…. 2 x 10
d)  Mandi, 10 menit …..   20
e)  Mandi dengan air satu bath tub penuh….20
f)  Mandi dengan air setengah bath tub….10
g)  Mandi dengan air bekas orang lain….10
h)  Menggosok gigi dg air kran tetap mengucur….5
i)  Mencukur kumis/jenggot dengan air kran tetap mengucur….5
Sub-Total: 20
C.  Berpakaian
 1.  Saya menggunakan pakaian lebih dari sekali sebelum di cuci?
a)  Sering….0
b)  Kadang-kadang….1 x 5
c)  Tidak pernah….10
2.  Saya menggunakan pakaian bekas (yg diperbaiki)
a)  iya….(-5) b)  tidak….0
3.  Saya memperbaiki baju saya sendiri?
a)  ya….(-5)  b)  Tidak….0
3.  50% dari baju saya adalah baju turunan?
a)  ya….(-5)  b)  tidak….0
4.  Saya membersihkan dan mengeringkan baju?
a)  none….0   b)  1-5 lembar….10 c) lebih dari 6 lembar….20
Sub-total: 25
D.  Rekreasi
Mengenali permainan, olahraga, dan aktivitas dimana aku terlibat, pada hari biasa di waktu senjang.
1. Seberapa banyak peralatan yg diperlukan ?
a)  tidak ada atau sedikit..0   b)  beberapa….1x 10    c)  cukup banyak….20
2.  Seberapa luas lahan yg dibutuhkan untuk bermain di lapangan, dataran es, kolam renang, untuk memenuhi kebutuhan rekreasi anda?
a)  tidak ada atau sedikit….0   b) sedang (<1 hektar) 1x  10   c) cukup besar (>hektar)…20
3.  Saya menghabiskan uang hari ini untuk belanja (pakaian, baju, peralatan olahraga)?
a)  Tidak ada….0   b)$5…5    c)$10…10   c)$10+…1 pt. per dollar
Nilaiku 10
Sub-Total: 10
E.  Makanan
1.  Berapa porsi daging yang dimakan sehari?
a)  0….0   b) 1 porsi….1 x 10   c) 2 porsi….20   d) 3 porsi….30
2.  Seberapa banyak makan bersisa di piring?
a) tidak ada…1x  0    b) sedikit….5    c) cukup banyak….10
3. Saya mengkonsumsi campuran sisa sayur dan buah?
a)  ya….0                b)  tidak….1 x 10

4.  Makanan yg saya makan adalah makanan lokal?
a)  semuanya….0     b)  beberapa...1x  10         c) tidak ada….20
5.  Makanan yg saya makan adalah produk organik?
a)  semuanya….0     b)  beberapa..1x 10           c) tidak ada….20
6.  Makanan yg dikonsumsi dibunkus plastik/kertas?
a)  Tidak….0            b) beberapa….1x 10          c) Semuanya….20
Sub-Total:  40
F.  Sampah
1. Jika saya membuang seluruh sampah  pada hari ini, seberapa besar penampungan sampahnya?
a)  peti kayu….30
b)  kotak sepatu….1x 20
c)  secangkir….5
d)  tidak ada sampah….0
Sub-Total: 5
Add Sub-Totals of “A-F” = Total 1 : 190
Adapun total sub nilaiku untuk A-F (Total 1) = 190     
TOTAL KESELURUHAN= (Total 1 )  X  3
 ( 190  x  3  )=  570
Saya telah menghitung total dari ‘tiga’ tipikal keseharianku. Sekarang total keseluruhan tersebut menjadi jejak ekologis pribadiku, menggunakan rumus dibawah:
Total keseluruhan dibagi 100 = jejak ekologis anda dalam satuan hektar
Jadi "JEJAK EKOLOGI" ku  =  6,96  HEKTAR
Ecological Footprint secara sederhana dapat ditentukan dengan menelusuri berapa besarnya konsumsi sumberdaya alam (baik berupa produk ataupun jasa), serta sampah yang kita produksi dan disetarakan dengan area permukaan bumi yang produktif secara biologis dalam satuan luasan hektar (ha).
Penggunan transportasi yang menghasilkan emisi karbon dimana dihasilkan jika kita menggunakan kendaraan umum dengan  kendaraan pribadi. Jumlah emisi yang dihasilkan perjalanan menggunakan kendaraan umum adalah 0,19 gram CO2 per km dibandingkan dengan kendaraan pribadi sebesar 1,4 gram CO2. Menggunakan busway, kereta, bersepada, atau menggunakan transportasi umum akan jauh  memperkecil jejak karbon Anda. Tentu saja jika Anda menggunakan sepeda atau berjalan kaki  menuju ke tempat aktivitas Anda, jejak karbon Anda adalah nol.
Dalam hal ini bahwa kegitan dan konsumsi dalam kehidupan kita sehari-hari melampaui dengan lingkungan. Misalkan dengan dengan perawatan diulang di semua disiplin rohani. Aku digunakan untuk mempertimbangkan setiap bencana alam yang akan kodrat balas dendam! Saya tidak berpikir alam pendendam meskipun, hanya manusia! Saya menyadari bahwa saya perlu membuat perubahan kecil dalam cara saya menggunakan / makan / mengkonsumsi cara saya menjalani hidup.
Gaya hidup yang tidak berwawasan lingkungan seperti membuang sampah tidak pada tempatnya menjadi penyebab utama berlebihannya jejak kaki ekologis seseorang tidak ada salahnya kita mulai menghitung dan lebih bijak dalam bergaya hidup. Jika manusia tidak juga mengubah gaya hidupnya menjadi lebih ramah lingkungan, akan dibutuhkan lebih dari satu planet bumi untuk memenuhi kebutuhan manusia
Jejak ekologis adalah sistem yang mengukur seberapa banyak ruang (di darat dan air) yang diperlukan manusia untuk menghasilkan sumber daya yang mereka butuhkan dan menyerap limbah yang mereka hasilkan. Kalkulasi jejak ekologis dilakukan dengan menghitung berapa hektar ruang hidup (darat dan air) di bumi yang dibutuhkan oleh seorang manusia untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya dalam setahun.
Jejak Ekologis adalah suatu metoda untuk mengukur dampak manusia terhadap alam dan  mengkomunikasikannya secara kuantitatif dalam bentuk yang mudah dipahami. Dampak atau beban kita terhadap alam dinyatakan sebagai luas daerah (tanah dan perairan) yang dibutuhkan untuk menunjang hidup manusia secara berkelanjutan.
Jejak Ekologi merupakan analisis nilai kebutuhan manusia di dalam ekosistem .Analisis ini membandingkan kebutuhan manusia dengan kemampuan biosfer alam dalam mereproduksi sumber daya . Nilai tersebut merepresentasikan jumlah lahan produktif  biologis yang diperlukan untuk mereproduksi sumber daya yang dikonsumsi manusia dan menyerap limbah melalui teknologi yang berlaku. Dengan penilaian ini, maka dapat diperkirakan berapa banyak sumber daya kota yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan manusia. Sebagai gambaran, jejak ekologis bumi mencapai nilai 1,4 pada tahun 2006. Dengan kata lain, manusia menggunakan 1,4 kali lebih cepat jasa ekologi yang dapat perbaharui bumi.
Manusia tidak akan dapat melestarikan pola hidup terutama jika pertumbuhan populasi eksponensial dianggap. Lanjutan berlebihan sumber daya alam akan mengakibatkan kelaparan manusia dan penyakit, lahan tandus, miskin kualitas udara, bencana ekonomi global yang mengarah ke pemberontakan publik, dan akhirnya kematian dari spesies manusia dan bentuk kehidupan lain dan spesies.
          Dalam jejak ekologi saya, pembahasan ekologi manusia, manusia ditempatkan dalam konteks prinsip-prinsip ekologi sehingga lebih diutamakan garis-garis besar evolusi manusia secara umum dengan menentukan keadaan ekologis kita sekarang dan menduga keadaan ekologis pada waktu yang akan datang. Dalam mempelajari ekologi manusia, tidak dapat dipisahkan dengan evolusi manusia. Karena evolusi manusia inilah yang mempengaruhi intraksi manusia dengan lingkungannya. Semakin tinggi tingkat evolusi manusia, seharusnya semakin tinggi dan semakin baik pula interaksi dengan lingkungannya, baik biotik maupun abiotik dan demikian pula sebaliknya.
          Sebagai contoh misalnya yaitu pengaruh sumber-sumber daya terhadap populasi manusia di suatu wilayah. Populasi manusia cenderung terkonstrasi di daerah-daerah pantai lautan tertentu dengan pelabuhan yang bagus yang memungkinkan bagi perdagangan industri dan di lembah-lembah dari beberapa sungai besar. Populasi penduduk yang hidup di daerah tersebut tentu saja dipengaruhi oleh sumber-sumber daya yang ada pada daerah tersebut.
Ekologi manusia merupakan studi terhadap bagaimana manusia berinteraksi dengan alam bukan hanya sebagai makhluk biologis, tetapi lebih-lebih sebagai makluk berbudaya. Ekologi manusia juga menyangkut bagaimana interaksi itu mempengaruhi kependudukan dan pola organisasi dan juga konsekuensinya bagi alam, serta timbal balik dari konsekuensi itu. Kalau dahulu manusia menjadi aktor terbatas di dalam ekosistem tertentu, sekarang menjadi sumber pengaruh di hampir semua ekosistem di bumi. Bahkan boleh dikatakan, planet bumi dengan biosfernya lah yang merupakan ekosistem bagi manusia sekarang. Daya dukung ekosistem inilah yang akhirnya menentukan, penyesuaian apa yang harus dilakukan manusia dalam perilaku dan pola organisasi untuk tetap survive.