1. PENDAHULUAN
Krisis lingkungan hidup
yang kita alami dewasa ini tidak hanya akibat dari meledaknya populasi dan
perkembangan teknologi eksploitasi, tetapi secara mendasar bersumber pada
kesalahan fundamental-filosofis dalam pemahaman atau cara pandang manusia
mengenai dirinya, alam, dan tempat manusia di dalam keseluruhanekosistem.
Kesalahan cara pandang ini bersumber dari etika antroposentrisme, yang memandang manusia sebagai pusat dari alam semesta, bahwa hanya manusia yang mempunyai nilai, sementara alam dan segala isinya sekadar alat bagi pemuasan kepentingan dan kebutuhan hidup manusia.
Kesalahan cara pandang ini bersumber dari etika antroposentrisme, yang memandang manusia sebagai pusat dari alam semesta, bahwa hanya manusia yang mempunyai nilai, sementara alam dan segala isinya sekadar alat bagi pemuasan kepentingan dan kebutuhan hidup manusia.
Bertolak dari kondisi tersebut, menekankan
perlunya suatu etika baru yang tidak hanya berlaku untuk interaksi
antarmanusia, tetapi juga interaksi manusia dengan semua kehidupan di bumi.
Suatu etika yang yang memandang alam sebagai bernilai pada dirinya sendiri dan
pantas diperlakukan secara bermoral. Dengan etika baru ini, manusia dituntut
untuk menjaga dan melindungi alam beserta segala isinya. Alam dan seluruh
isinya tidak sekadar bernilai instrumental-ekonomis untuk dieksploitasi bagi
kepentingan manusia.
II.
TUJUAN
1.
Untuk mengetahui jejak ekologi manusia dalam etika
lingkungan ?
2.
Bagaimana jejak ekologi manusia dalam etika lingkungan
?
3.
Utuk mengetahui etika liingkungan dalam perilaku
manusia ?
III. JEJAK EKOLOGI
MANUSIA DALAM ETIKA LINGKUNGAN
3.1 Konsepsi Jejak Ekologi
Jejak ekologi pada
asasnya ialah kemampuan sumber tanah dan air menyediakan sumber yang diperlukan
oleh manusia (makanan, minuman, tempat tinggal dan lain-lain) serta kemampuan
untuk bumi untuk menyerap semua bahan buangan manusia sesudah mereka
menggunakannya. Dengan kata lain sumber yang digunakan oleh manusia
dibandingkan dengan kemampuan bumi untuk menghasilkan semuala bahan yang sudah
digunakan. Konsep ini pada awalnya dibangunkan oleh Profesor Willian Rees dari
Universiti British Colombia pada tahun 1992.
Jejak Ekologis adalah
suatu metoda untuk mengukur dampak manusia terhadap alam dan mengkomunikasikannya secara kuantitatif dalam
bentuk yang mudah dipahami. Dampak atau beban kita terhadap alam dinyatakan
sebagai luas daerah (tanah dan perairan) yang dibutuhkan untuk menunjang hidup
manusia secara berkelanjutan.
3.2 Etika Lingkungan
Etika adalah penilaian terhadap tingkah
laku atau perbuatan. Etika bersumber pada kesadaran dan moral seseorang. Etika
biasanya tidak tertulis. Namun ada etika yang tertulis, misalnya etika profesi,
yang dikenal sebagai kode etik.
Etika lingkungan, pada
dasarnya adalah perbuatan apa yang dinilai baik untuk lingkungan dan apa yang
tidak tidak baik bagi lingkungan. Etika lingkutan bersumber pada pandangan
seseorang tetang lingkungan.
Prinsip-prinsip etika lingkungan mengatur sikap dan tingkah laku manusia dengan lingkungannya. Prinsip-prinsip tersebut adalah prinsip tidak merugikan, tidak campur tangan, kesetiaan, dan keadilan.
Prinsip-prinsip etika lingkungan mengatur sikap dan tingkah laku manusia dengan lingkungannya. Prinsip-prinsip tersebut adalah prinsip tidak merugikan, tidak campur tangan, kesetiaan, dan keadilan.
1. Prinsip tidak merugikan (the rule of Nonmaleficence),
yakni tidak merugikan lingkungan, tidak menghancurkan populasi spesies ataupun
komunitas biotic.
2. Prinsip tidak campur tangan (the rule of
noninterference), yakni tidak memberi hambatan kepada kebebasan setiap
organisme, yaitu kebebasan mencari makan, tempat tinggal, dan berkembang biak.
3. Prinsip kesetiaan (The rule of fidelity) yakni tidak
menjebak, menipu, atau memasang perangkap terhadap makhluk hidup untuk
semata-mata kepentingan manusia.
4. Prinsip keadilan (the Rule of Restitutive
Justice), yakni mengembalikan apa yang telah kita rusak dengan membuat
kompensasi.
Beberapa contoh tindakan
- tindakan yang sesuai dengan etika
lingkungan adalah sebagai berikut :
1. Membuang sampah (missal bungkus permen) pada
tempatnya. Jika belum ditemukan tempat sampah, bungkus permen itu hendaknya
dimasukkan ke saku terlebih dahulu sebelum di buang pada tempatnya.
2. Menggunakan air secukupnya. Jika tidak sedang
digunakan, matikan keran. Dari keran yang menetes selama semalam, dapat
ditampung air sebanyak 5- 10 liter, cukup untuk minum bagi dua orang dalam
sehari. Ingat, sesungguhnya air itu tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk
makhluk hidup lainnya.Hemat energi.
3. Mematikan lampu listrik jika tidak digunakan. Jika
kamu memasak air, kecilkan api kompor tersebut segera setelah air mendidih.
Menurut hukum fisika, jika air mendidih, suhunya tidak dapat ditingkatkan lagi.
Menggunakan api kompor besar ketika air sudah mendidih hanya memboroskan bahan
bakar.
4. Tidak membunuh hewan yang ada di lingkungan,
menangkap, atau memeliharanya.
5. Tidak memetik daun, bunga, ranting, atau
menebang pohon tanpa tujuan yang jelas dan bermanfaat.
6. Gemar menanam bunga, merawat tanaman, melakukan
penghijauan.
7. Mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.
8. Mengembalikan hewan atau tumbuhan ke habitat aslinya
Etika lingkungan dalam Perilaku manusia
Etika lingkungan hidup, berhubungan dengan perilaku manusia
terhadap lingkungan hidupnya, tetapi bukan berarti bahwa manusia adalah pusat
dari alam semesta (antroposentris). Lingkungan hidup adalah lingkungan di
sekitar manusia, tempat dimana organisme dan anorganisme berkembang dan
berinteraksi, jadi lingkungan hidup adalah planet bumi ini. Ini berarti
manusia, organisme dan anorganisme adalah bagian integral dari dari planet bumi
ini. Hal ini perlu ditegaskan sebab seringkali manusia bersikap seolah-olah
mereka bukan merupakan bagian dari lingkungan hidup.
Secara
entimologis manusia dan bumi sama sama mempunyai akar kata yang sama dalam
bahasa semit, yaitu disebut ‘dm, asal kata adam (manusia) dan adamah, artinya
tanah. Manusia adalah lingkungan hidup, sebab dia mempunyai ciri-ciri dimana
seluruh komponen yang yang ada berasal dari alam ini, yaitu ciri-ciri fisik dan
biologis.
Istilah lingkungan hidup pertama kali dimunculkan oleh
Ernst Haeckel, seorang murid Darwin pada
tahun 1866, yang menunjuk kepada keseluruhan organisme atau pola hubungan antar
organisme dan lingkungannya. Ekologi berasal dari kata oikos dan logos, yang
secara harfiah berarti rumah dan lingkungan. Ekologi sebagai ilmu berarti
pengetahuan tentang lingkungan hidup atau planet bumi ini sebagai keseluruhan.
Jadi lingkungan harus selalu dipahami dalam arti oikos, yaitu planet bumi ini.
Sebagai oikos bumi mempunyai dua fungsi yang sangat penting, yaitu sebagai
tempat kediaman (oikoumene) dan sebagai sumber kehidupan (oikonomia/ekonomi).
Etika
adalah hal yang sering dilupakan dalam pembahasan perusakan lingkungan. Pada
umumnya pihak-pihak yang terlibat dalam konflik ini cenderung langsung
menggunakan fenomena-fenomena yang muncul di permukaan dan kemudian mencari
penyebabnya kepada aktivitas yang ada di sekitar fenomena tersebut (misalnya:
Logging, Pertambangan, Industri dll) sebagai tersangka dan untuk mendukung
kecurigaan tersebut digunakanlah bukti-bukti yang dikatakan ilmiah, walaupun
sering terjadi data yang dikemukakan tidak relevan.
Pada
sisi lain pihak yang dituduh kemudian juga menyodorkan informasi atau data yang
bersifat teknis yang menyatakan mereka tidak bersalah, akibatnya konflik yang
terjadi semakin panas dan meluas, padahal kalau mereka yang berkonflik memiliki
etika yang benar tentang lingkungan hidup maka konflik yang menuju kearah yang
meruncing akan dapat dicegah.
Apakah yang menyebabkan etika lingkungan cenderung
dilupakan? Pada umumnya disebabkan oleh beberapa hal yaitu keserakahan yang
bersifat ekonomi (materialisme), ketidak tahuan bahwa lingkungan perlu untuk
kehidupannya dan kehidupan orang lain serta keselarasan terhadap semua
kehidupan dan materi yang ada disekitarnya, atau karena telah terjadi transaksi
jiwa antara perusak lingkungan dengan Mephistopheles, sehingga yang di
kedepankan adalah meraih puncak-puncak nafsu yang ada di bumi dan sekaligus
mendapatkan bintang-bintang indah di langit atau surga. Bukankah ini sesuatu
yang ironis ?
Lingkungan hidup bukanlah obyek untuk dieksploitasi secara
tidak bertanggung jawab, tetapi harus ada suatu kesadaran bahwa antara manusia
dan lingkungan terdapat adanya relasi yang kuat dan saling mengikat. Rusaknya
lingkungan hidup akan berakibat pada terganggunya kelangsungan hidup manusia.
Karena itu setiap kali kita mengeksploitasi sumberdaya mineral dari alam yang
diciptakan oleh Tuhan, kita harus memperhitungkan dengan seksama manfaat apa
yang akan dihasilkannya bagi kemaslahatan manusia. Dengan demikian pemanfaatan
ini tetap dalam tujuan transformasi menjadi manusia yang merdeka, cerdas, dan
setara satu dan lainnya.
IV.
PEMBAHASAN
Dari Hasil analisis diatas Jejak Ekologis adalah suatu
metoda untuk mengukur dampak manusia terhadap alam dan mengkomunikasikannya secara kuantitatif dalam
bentuk yang mudah dipahami. Dampak atau beban kita terhadap alam dinyatakan
sebagai luas daerah (tanah dan perairan) yang dibutuhkan untuk menunjang hidup
manusia secara berkelanjutan.
Dalam hal ini bahwa hanya manusia mempunyai tanggung jawab
moral terhadap lingkungan karena manusia tahu apa yang baik ia lakukan dan yang
tidak ia lakukan dalm etika lingkungan. Tapi walaupun manusia termasuk alam dan
sepenuhnya dapat dianggap sebagai bagian alam, namun hanya manusialah yang
sanggup melampaui status alaminya dengan memikul tanggung jawab lingkungan
hidup disekitarnya.
Pikiran bahwa setiap manusia berhak atas lingkungan
berkualitas yang memungkinkan dia untuk hidup dengan baik. Lingkungan yang
berkualitas sesuatu yang sangat diharapkan, tetapi juga sesuatu yang harus
direalisasikan karena menjadi hak setiap manusia . Tetapi hak atas lingkungan
yang berkualitas bisa saja mengalahkan hak seseorang untuk memakai miliknya
dengan bebas. Jika perusahaan memiliki tanah sendiri, ia tidak boleh membuang
limbah beracun di situ, karena dengan itu ia mencemari lingkungan hidup yang
tidak pernah menjadi milik pribadi begitu saja.
Jika
kita bisa menyetujui hak atas lingkungan berkualitas ini pada taraf teori, maka
pada taraf praktek masih tinggal banyak kesulitan. Tidak menjadi jelas sejauh
mana hak atas milik pribadi atau hak atas usaha ekonomis harus dibatasi.
Dalam konteks hak dan lingkungan hidup kerap kali
diperdedakan lagi pertanyaan apakah kita harus mengakui adanya hak untuk
generasi-generasi yang akan datang dan malah binatang atau barangkali malah
pohon dan mahluk hidup lainnya. Hak dalam arti sebenarnya selalu mengandaikan
subyek yang rasional dan bebas, jadi manusia yang hidup. Hanya saja, dengan
menyangkal adanya hak-hak ini, kita tidak menyangkal adanya hak-hak ini, kita
tidak menyangkal adanya kewajiban untuk mewariskan lingkungan hidup berkualitas
kepada generasi-generasi yang akan datang dan kewajiban untuk memelihara
keanekaan hayati. Walaupun sering kewajiban dengan pihak satu sepadan dengan
hak dari pihak lain, di sini tidak demikian. Sumber bagi kewajiban kita di sini
adalah tanggung jawab kita terhadap generasi-generasi sesudah kita dan
keanekaan hayati bukan hak-hak mereka.
Awal
atau Pendasaran bagi tanggung jawab untuk melestarikan lingkungan hidup, dapat
dicari juga dalam tuntutan etis untuk mewujudkan keadilan. Kalau begitu,
keadilan di sini harus dipahami sebagai keadilan distributive, artinya keadilan
yang mewajibkan kita untuk membagi dengan adil. Sebagaimana sudah kita lihat,
lingkungan hidup pun menyangkut soal kelangkaan dank arena itu harus dibagi
dengan adil. Perlu dianggap tidak adil, bila kita tidak memanfaatkan alam
demikian rupa, sehingga orang lain misalnya generasi-generasi yang akan datang
tidak lagi bisa memakai alam untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan baik
V. KESIMPULAN
Jejak ekologis menghitung luasnya subur tanah, air tawar
tawar, lautan dan banyakknya energi yang tidak terbarukan dan yang dibutuhkan
manusia untuk memenuhi kebutuhan atas pangan, sedang papan serta mobilitas
orang. hal ini berarti bahwa cara kehidupan masa kini telah melebihi kemampuan
bumi dan mengancam keberlanjutan kehidupan pada planet ini.
Dalam hal ini bahwa hanya manusia mempunyai tanggung jawab
moral terhadap lingkungan karena manusia tahu apa yang baik ia lakukan dan yang
tidak ia lakukan dalm etika lingkungan.
Setiap mahluk manusia, Binatang atau tumbuhan, merindukan
kehidupan. Akan tetapi tidak ada mahluk yang mampu memuaskan nafsu atas kesejahteraan
sosial, kenikmatan dan keuntungan yang tidak dapat terpenuhi. kebebasan manusia
untuk memilih dan tugas untuk merawat
dunia ini dengan penuh rasa tanggung jawab dan secara berkesinambungan adalah dasar etika. Memikirkan etika
lingkungan secara mendalam , misalnya pada contoh mobilitas, makin jelas bahwa
arah yang telah kita tempuh merupakan jalan buntu, kita harus mengubah pikiran.
Tujuannya untuk mempertahankan eksistensi planet bumi maka
manusia memerlukan kekuatan/nilai lain yaitu etika atau moral manusia. Etika
dan moral bukan ciptaan manusia, sebab ia melekat pada dirinya, menjadi
hakikatnya. Sama seperti bumi bukan ciptaan manusia. Ia dikaruniai bumi untuk
dikelola dan pengelolaan itu berjalan dengan baik dan bertanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA
Dasar-Dasar arsitektur Ekologi .2007.Yogyakarta :
Kanisius
http://yundahamasah.blogspot.com/2013/03/jejak-ekologiku.html
JEJAK EKOLOGI
Jejak ekologis
adalah sistem yang mengukur seberapa banyak ruang (di darat dan air) yang
diperlukan manusia untuk menghasilkan sumber daya yang mereka butuhkan dan
menyerap limbah yang mereka hasilkan. Kalkulasi jejak ekologis dilakukan dengan
menghitung berapa hektar ruang hidup (darat dan air) di bumi yang dibutuhkan
oleh seorang manusia untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya dalam setahun.
Jejak Ekologis
adalah suatu metoda untuk mengukur dampak manusia terhadap alam dan mengkomunikasikannya secara kuantitatif dalam
bentuk yang mudah dipahami. Dampak atau beban kita terhadap alam dinyatakan
sebagai luas daerah (tanah dan perairan) yang dibutuhkan untuk menunjang hidup
manusia secara berkelanjutan.
Jejak Ekologi
merupakan analisis nilai kebutuhan manusia di dalam ekosistem .Analisis ini
membandingkan kebutuhan manusia dengan kemampuan biosfer alam dalam
mereproduksi sumber daya . Nilai tersebut merepresentasikan jumlah lahan
produktif biologis yang diperlukan untuk
mereproduksi sumber daya yang dikonsumsi manusia dan menyerap limbah melalui
teknologi yang berlaku. Dengan penilaian ini, maka dapat diperkirakan berapa
banyak sumber daya kota yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan manusia.
Sebagai gambaran, jejak ekologis bumi mencapai nilai 1,4 pada tahun 2006.
Dengan kata lain, manusia menggunakan 1,4 kali lebih cepat jasa ekologi yang
dapat perbaharui bumi.
Cara Menghitung Seberapa Besar Jejak
Ekologiku
Untuk mengukur
jejak ekologi kita berdasar standar yang telah ditentukan, menggunakan kuis.
Beberapa faktor yang menjadi komponen penghitungan adalah bagaimana jejak
rantai makanan (food), tempat berteduh (shelter), perjalanan untuk berkegiatan
(mobility), barang (goods), jasa (service). Dari 5 jejak ini terasa mobilitas,
makanan, dan perumahan mendapat porsi penyelidikan yang besar. Sebaliknya
barang dan jasa hanya sekelumit mendapat penilaian. Dari hasil reka-reka
jawaban, ternyata memang sangat sulit untuk menghasilkan jawaban yang tak lebih
dari 1 yang berarti cukup dengan kondisi alamiah bumi.
A. Transportasi
1. Dengan apa
anda bepergian hari ini?
a) Berjalan…..0
b) Bersepeda…..5
c) Dengan Angkutan Umum…. 10
d) Menumpang.....15
e) Kendaraan Pribadi …. 3 x 30
(Kalikan setiap
skor dengan berapa sering metode tsb dipakai
dalam satu hari dankemudian
Sub-Total: 90
B. Penggunaan
Air
1. Seberapa
banyak air yang digunakan?
a) Tidak
mandi….0
b) Mandi, 1-2
menit. ….5
c) Mandi, 3-6
menit.…. 2 x 10
d) Mandi, 10
menit ….. 20
e) Mandi dengan
air satu bath tub penuh….20
f) Mandi dengan
air setengah bath tub….10
g) Mandi dengan
air bekas orang lain….10
h) Menggosok
gigi dg air kran tetap mengucur….5
i) Mencukur
kumis/jenggot dengan air kran tetap mengucur….5
Sub-Total: 20
C. Berpakaian
1. Saya menggunakan pakaian lebih dari sekali
sebelum di cuci?
a) Sering….0
b)
Kadang-kadang….1 x 5
c) Tidak
pernah….10
2. Saya
menggunakan pakaian bekas (yg diperbaiki)
a) iya….(-5) b)
tidak….0
3. Saya
memperbaiki baju saya sendiri?
a) ya….(-5) b)
Tidak….0
3. 50% dari
baju saya adalah baju turunan?
a) ya….(-5) b)
tidak….0
4. Saya
membersihkan dan mengeringkan baju?
a) none….0 b) 1-5
lembar….10 c) lebih dari 6 lembar….20
Sub-total: 25
D. Rekreasi
Mengenali permainan, olahraga, dan aktivitas dimana
aku terlibat, pada hari biasa di waktu senjang.
1. Seberapa banyak peralatan yg diperlukan ?
a) tidak ada
atau sedikit..0 b) beberapa….1x 10 c)
cukup banyak….20
2. Seberapa
luas lahan yg dibutuhkan untuk bermain di lapangan, dataran es, kolam renang,
untuk memenuhi kebutuhan rekreasi anda?
a) tidak ada
atau sedikit….0 b) sedang (<1
hektar) 1x 10 c) cukup besar (>hektar)…20
3. Saya
menghabiskan uang hari ini untuk belanja (pakaian, baju, peralatan olahraga)?
a) Tidak
ada….0 b)$5…5 c)$10…10
c)$10+…1 pt. per dollar
Nilaiku 10
Sub-Total: 10
E. Makanan
1. Berapa porsi
daging yang dimakan sehari?
a) 0….0 b) 1 porsi….1 x 10 c) 2 porsi….20 d) 3 porsi….30
2. Seberapa
banyak makan bersisa di piring?
a) tidak ada…1x
0 b) sedikit….5 c) cukup banyak….10
3. Saya mengkonsumsi campuran sisa sayur dan buah?
a) ya….0 b) tidak….1 x 10
4. Makanan yg
saya makan adalah makanan lokal?
a)
semuanya….0 b) beberapa...1x
10 c) tidak ada….20
5. Makanan yg
saya makan adalah produk organik?
a)
semuanya….0 b) beberapa..1x 10 c) tidak ada….20
6. Makanan yg
dikonsumsi dibunkus plastik/kertas?
a)
Tidak….0 b)
beberapa….1x 10 c) Semuanya….20
Sub-Total:
40
F. Sampah
1. Jika saya membuang seluruh sampah pada hari ini, seberapa besar penampungan
sampahnya?
a) peti
kayu….30
b) kotak
sepatu….1x 20
c) secangkir….5
d) tidak ada
sampah….0
Sub-Total: 5
Add Sub-Totals of “A-F” = Total 1 : 190
Adapun total sub nilaiku untuk A-F (Total 1) =
190
TOTAL KESELURUHAN= (Total 1 ) X 3
( 190 x
3 )= 570
Saya telah
menghitung total dari ‘tiga’ tipikal keseharianku. Sekarang total keseluruhan
tersebut menjadi jejak ekologis pribadiku, menggunakan rumus dibawah:
Total
keseluruhan dibagi 100 = jejak ekologis anda dalam satuan hektar
Jadi "JEJAK EKOLOGI" ku =
6,96 HEKTAR
Ecological
Footprint secara sederhana dapat ditentukan dengan menelusuri berapa besarnya
konsumsi sumberdaya alam (baik berupa produk ataupun jasa), serta sampah yang
kita produksi dan disetarakan dengan area permukaan bumi yang produktif secara
biologis dalam satuan luasan hektar (ha).
Penggunan transportasi
yang menghasilkan emisi karbon dimana dihasilkan jika kita menggunakan
kendaraan umum dengan kendaraan pribadi.
Jumlah emisi yang dihasilkan perjalanan menggunakan kendaraan umum adalah 0,19
gram CO2 per km dibandingkan dengan kendaraan pribadi sebesar 1,4 gram CO2.
Menggunakan busway, kereta, bersepada, atau menggunakan transportasi umum akan
jauh memperkecil jejak karbon Anda.
Tentu saja jika Anda menggunakan sepeda atau berjalan kaki menuju ke tempat aktivitas Anda, jejak karbon
Anda adalah nol.
Dalam hal ini
bahwa kegitan dan konsumsi dalam kehidupan kita sehari-hari melampaui dengan
lingkungan. Misalkan dengan dengan perawatan diulang di semua disiplin rohani.
Aku digunakan untuk mempertimbangkan setiap bencana alam yang akan kodrat balas
dendam! Saya tidak berpikir alam pendendam meskipun, hanya manusia! Saya
menyadari bahwa saya perlu membuat perubahan kecil dalam cara saya menggunakan
/ makan / mengkonsumsi cara saya menjalani hidup.
Gaya hidup yang
tidak berwawasan lingkungan seperti membuang sampah tidak pada tempatnya
menjadi penyebab utama berlebihannya jejak kaki ekologis seseorang tidak ada
salahnya kita mulai menghitung dan lebih bijak dalam bergaya hidup. Jika
manusia tidak juga mengubah gaya hidupnya menjadi lebih ramah lingkungan, akan
dibutuhkan lebih dari satu planet bumi untuk memenuhi kebutuhan manusia
Jejak ekologis
adalah sistem yang mengukur seberapa banyak ruang (di darat dan air) yang
diperlukan manusia untuk menghasilkan sumber daya yang mereka butuhkan dan
menyerap limbah yang mereka hasilkan. Kalkulasi jejak ekologis dilakukan dengan
menghitung berapa hektar ruang hidup (darat dan air) di bumi yang dibutuhkan
oleh seorang manusia untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya dalam setahun.
Jejak Ekologis
adalah suatu metoda untuk mengukur dampak manusia terhadap alam dan mengkomunikasikannya secara kuantitatif dalam
bentuk yang mudah dipahami. Dampak atau beban kita terhadap alam dinyatakan
sebagai luas daerah (tanah dan perairan) yang dibutuhkan untuk menunjang hidup
manusia secara berkelanjutan.
Jejak Ekologi
merupakan analisis nilai kebutuhan manusia di dalam ekosistem .Analisis ini
membandingkan kebutuhan manusia dengan kemampuan biosfer alam dalam
mereproduksi sumber daya . Nilai tersebut merepresentasikan jumlah lahan
produktif biologis yang diperlukan untuk
mereproduksi sumber daya yang dikonsumsi manusia dan menyerap limbah melalui
teknologi yang berlaku. Dengan penilaian ini, maka dapat diperkirakan berapa
banyak sumber daya kota yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan manusia.
Sebagai gambaran, jejak ekologis bumi mencapai nilai 1,4 pada tahun 2006.
Dengan kata lain, manusia menggunakan 1,4 kali lebih cepat jasa ekologi yang
dapat perbaharui bumi.
Manusia tidak
akan dapat melestarikan pola hidup terutama jika pertumbuhan populasi
eksponensial dianggap. Lanjutan berlebihan sumber daya alam akan mengakibatkan
kelaparan manusia dan penyakit, lahan tandus, miskin kualitas udara, bencana
ekonomi global yang mengarah ke pemberontakan publik, dan akhirnya kematian
dari spesies manusia dan bentuk kehidupan lain dan spesies.
Dalam jejak ekologi saya, pembahasan
ekologi manusia, manusia ditempatkan dalam konteks prinsip-prinsip ekologi
sehingga lebih diutamakan garis-garis besar evolusi manusia secara umum dengan
menentukan keadaan ekologis kita sekarang dan menduga keadaan ekologis pada
waktu yang akan datang. Dalam mempelajari ekologi manusia, tidak dapat
dipisahkan dengan evolusi manusia. Karena evolusi manusia inilah yang
mempengaruhi intraksi manusia dengan lingkungannya. Semakin tinggi tingkat
evolusi manusia, seharusnya semakin tinggi dan semakin baik pula interaksi
dengan lingkungannya, baik biotik maupun abiotik dan demikian pula sebaliknya.
Sebagai contoh misalnya yaitu pengaruh
sumber-sumber daya terhadap populasi manusia di suatu wilayah. Populasi manusia
cenderung terkonstrasi di daerah-daerah pantai lautan tertentu dengan pelabuhan
yang bagus yang memungkinkan bagi perdagangan industri dan di lembah-lembah
dari beberapa sungai besar. Populasi penduduk yang hidup di daerah tersebut
tentu saja dipengaruhi oleh sumber-sumber daya yang ada pada daerah tersebut.
Ekologi manusia
merupakan studi terhadap bagaimana manusia berinteraksi dengan alam bukan hanya
sebagai makhluk biologis, tetapi lebih-lebih sebagai makluk berbudaya. Ekologi
manusia juga menyangkut bagaimana interaksi itu mempengaruhi kependudukan dan
pola organisasi dan juga konsekuensinya bagi alam, serta timbal balik dari
konsekuensi itu. Kalau dahulu manusia menjadi aktor terbatas di dalam ekosistem
tertentu, sekarang menjadi sumber pengaruh di hampir semua ekosistem di bumi. Bahkan
boleh dikatakan, planet bumi dengan biosfernya lah yang merupakan ekosistem
bagi manusia sekarang. Daya dukung ekosistem inilah yang akhirnya menentukan,
penyesuaian apa yang harus dilakukan manusia dalam perilaku dan pola organisasi
untuk tetap survive.